Beratnya Persyaratan Tunjangan Profesi

KM Sambang Kampung- Kesabaran guru untuk menunggu tunjangan profesi rupanya kembali harus diuji. Para guru kembali disibukkan dengan berbagai berkas yang harus diisi dan dikumpulkan untuk mendapatkan tunjangan yang setengah hati ini. Pembayaran yang sangat banyak dengan berbagai jebakan dan ancaman  agar tunjangan itu tidak terbayarpun mulai dimunculkan. Gelagat penghapusan tunjangan profesi rupanya mulai ditunjukkan.

Daftar berkas pendukung persyaratan pembayaran tunjangan profesi dan aneka tunjangan tahun anggaran 2015 sebanyak 3 halaman ini membuat saya sebagai guru semakin gusar, jika anggota DPR, Presiden, Kepala Daerah tidak pernah melengkapi berkas sebanyak ini untuk mendadapatkan tunjangan profesinya akan tetapi jika guru yang akan menerima diharuskan untuk memenuhi persaratan yang membuat saya menjadi ingin muntah.

Jika dikajilebih jauh lagi, sebelum mendapatkan tunjangan guru disuruh untuk melengkapi berkas sehingga berhakuntuk mengikuti PLPG ( Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) setelah selesai mendapatkan sertifikat guru. Ketika akan menerima haknya untuk menerima tunjangan guru disuruh kembali untuk melengkapi berkas semakin lama semakin menyakitkan.

Marik kita simak persyaratan yang saya anggap sebagai lelucon dan sebagai jebakan itu,antara lain :

  1. Guru diwajibkan mengajar 24 jam, menurut saya ini wajar-wajar saja, tetapi jika sekolah tersebut kelasnya sedikit membuat para guru kalang kabut mencari jam disekolah lain, yang belum tentu ada sekolah yang mau menerimanya.
  2. Sertifikat Laboratorium bagi kepala laboratorium, menurut saya ini masih langka guru yang mempunyai sertifikat laboratorium karena pelatihan laboratorium sangat jarang bahkan tidak pernah ada.
  3. Sertifikat pustakawan bagi kepala perpustakaan ini juga sama dengan kepala laboratorium, pelatihan tentang perpustakaan jarang dan tidak ada.
  4. Sekolah yang mempunyai rombel 1 sampai 9 rombel hanya memiliki 1 wakasek. Ini akan sangat sulit karena bidang yang ditangani sangat banyak jika jenjangnya SMA/SMK.

Saya meminta kepada PGRI untuk bersikap dengan hal seperti ini. Guru nantinya akan disibukkan dengan hanya mengurus berkas tunjangan profesi dan akhirnya melupakan jam dikelas. Jika syarat seperti itu harus dipenuhi oleh guru, PGRI atau Dinas terkait harus rutin mengadakan pelatihan bagi pustakawan dan kepala laboratorium, jangan sampai pelatihan tidak pernah ada persyaratan terkesan dibuat-buat.

Saya sangat merasakan pemberian tunjangan profesi ini sangat lah berbelit-belit, selain pembayarannya terlambat pemanfaatan tunjangan inipun sulit untuk direncanakan karena pencairannya tidak pernah pasti. Semoga pemerintah ikhlas memberikan tunjangan profesi ini sehingga tidak membebani guru dengan aneka persyaratan yang sangat memberatkan. (uyik) - 03

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru