logoblog

Cari

Tutup Iklan

Satu Rumah Dihuni Tiga Kepala Keluarga

Satu Rumah Dihuni Tiga Kepala Keluarga

Keterangan yang disampaikan oleh siswi SMKN 1 Sambelia Hibziati kelas X (sepuluh) jurusan Teknik Komputer dan Jaringan yang setiap harinya mengalami

Pengaduan Pendidikan

KM Sambalia
Oleh KM Sambalia
29 April, 2014 11:11:10
Pengaduan Pendidikan
Komentar: 0
Dibaca: 184659 Kali

Keterangan yang disampaikan oleh siswi SMKN 1 Sambelia Hibziati kelas X (sepuluh) jurusan Teknik Komputer dan Jaringan yang setiap hari mengalami kesurupan di kelas yang berasal dari Dusun Menangareak, Desa Dara Kunci, Kecamatan Sambelia.

Setelah dilakukan konseling oleh Guru BP Subuh,S.Pd dan Waksek Humas Masyhuri,SE terungkap, kondisi fisiknya lemah karena pada pagi hari sebelum berangkat sekolah Hibziati tidak dapat bagian sarapan pagi, disebabkan anggota keluarga yang tinggal bersamanya sejumlah 9 orang dalam satu rumah yang sangat sederhana yang dihuni terdiri dari ayah, ibu, 2 kakak dan istrinya, 1 kakak yang bujang dan 1 keponakannya. Rumah yang ditempati hanya terdiri dari 4 ruangan yang ukurannya pun sangat sederhana yaitu 35 m2 (Meter persegi).

Menurut Hibziati, ayahnya sebagai kepala keluarga seharusnya tidur dirumah, akan tetapi keingginannya untuk hal tersebut tidak dapat tercapai karena penghuni rumah tersebut cukup padat. Rumah yang hanya memiliki 4 ruangan tersebut dihuni oleh 3 kepala keluarga yang terdiri dari 2 kamar dihuni oleh kedua kakaknya yang sudah kawin Hafizurahman dan Zulfikar, Hibziati dan ibunya Fauziah tidur sekamar dan ruang tamu ditempati oleh kakaknya yang bujang Asrorudin, sedangkan ayahnya Muhifudin sebagai kepala keluarga harus rela tinggal di ladang di gubuk yang kecil yang terbuat dari pagar dan atap daun kelapa dengan ukuran gubuk 4 m2.

Ditambahkan lagi oleh Hibziati terkadang dia tidak dapat jatah makan jika keadaan ekonomi orang tuanya tidak baik. Karena sebagian tanah yang digarap oleh ayahnya dijual ketika kedua kakaknya meminta biaya kawin atau menikah begitu juga hawan ternak seperti kambing yang dipeliharanya pun juga dijaul untuk biaya perkawinan tersebut, sehingga tanah yang seharusnya sebagai sumber penghasilan untuk keluargnya menjadi berkurang disebabkan bertambahnya anggota keluarga.

 

Baca Juga :


Kedua kakaknya yang sudah menikah belum tamat SLTA serta belum memiliki pekerjaan, tetap karena menikah pada usia sekolah sekitar 17 tahun. Sehingga kebutuhan hidup harus terus bertumpu pada penghasilan orang tuanya yang semakin berkurang karena tidak ada penghasilan lain yang diandalkan selain dari bertani atau berladang sedangkan tanah yang digarap tidak mencukupi untuk kebutuhan hidupnya.

Hal ini harus menjadi pelajaran bagi orang tua dan masyarakat untuk tidak mengabulkan anak-anaknya menikah di bawah usia yang belum produktif atau belum memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang merupakan tanggungan hidupnya bersama istri dan anak-anaknya. Jika hal ini tidak diperhatikan, maka tingkat kemiskinan dalam masyarakat akan terus berlanjut dan menjadi beban pemerintah dalam program menuntaskan pengangguran dan kemiskinan. Diharapakan pula penyuluhan terhadap usia perkawinan dari pihak pemerintah dan pihak yang terkait untuk selalu intensif menggugah pemikiran masyarakat yang masih berprinsip cepat kawin cepat menyelesaikan masalah keluarga.(Aponk/03)



 
KM Sambalia

KM Sambalia

TTL : Sambalia, 24 Februari 2014 anggota : 1.Kadir alpan alaydrus,S.Pd, 2.Adi Jumaidi,spd, 3.Oslan Nusifera, 4.Abdul Qudus,spd, 5.Raihanun,spd Email: kadiralaydrusspd@gmail.com, HP. 081805200292, 087763050848

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan